Agar Go Pay Sesuai Syariah

AGAR GO PAY SESUAI SYARIAH 
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Berikut ini ada tulisan tentang Riba pada Go-Pay sebagaimana yang ditulis oleh rekan-rekan di sekolahmuamalah.com. Saya kurang setuju dengan tulisan tersebut. TANGGAPAN saya [Ahmad Ifham Sholihin] akan saya berikan setelah saya tayangkan ulasan dari sekolahmuamalah.com tentang Riba pada Go-Pay dan saya awali dengan AHMAD IFHAM SHOLIHIN.

Okay. Berikut tulisan tentang Go-Pay dari sekolahmuamalah.com

————————————————————————————————–

[Lanjutan] Hakikat Riba Pada Ojek Online

by Admin Sekolah Muamalah Indonesia | Feb 10, 2017 | Muamalah

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

Setelah kami membaca tanggapan, diskusi dan pertanyaan pada artikel sebelumnya yang berjudul Riba Pada Ojek Online yang Masya Allah sangat banyak, antusias dan sangat mengandung keingintahuan masyarakat dalam mengkaji Ilmu Muamalah dengan tujuan mendapat keberkahan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka kami dari Sekolah Muamalah Indonesia mencoba menjelaskan lebih lanjut mengenai dasar muamalah yang seharusnya diberikan sebelum kajian permasalahan Muamalah Kontemporer.

Karena tanpa memahami dan mendalami konsep dasar Fiqih Muamalah Maaliyah maka akan terasa janggal atau mungkin asing untuk mencapai pemahaman saat ada pembahasan masalah Muamalah Kontemporer bagi yang membaca atau mendengarnya.

  1. Prinsip dasar Fiqih Muamalah Maaliyah memberikan pemahaman bahwa :
  • Hutang (Qordh) adalah pengalihan kepemilikan harta (kesepadanan) kepada orang yang diwajibkan untuk mengembalikan semisal harta tersebut.
  • Ijarah (Sewa) adalah transaksi tertentu terhadap suatu manfaat yang dituju , bersifat mubah dengan imbalan tertentu menurut Imam syafi’i. Menurut imam hanafi, ijarah yaitu akad atas kemanfaatan tertentu dengan pengganti ( upah ). Menurut jumhur ulama fiqh, ijarah yaitu menjual suatu manfaat yang boleh disewakan, serta hanya manfaatnya bukan bendanya yang disewakan.
  • Wadi`ah (atau penitipan), kata ini diambilkan dari barang yang ditinggalkan pada orang yang diminta untuk menjaganya, dengan tanpa ganti/biaya beban. Wadi`ah pada dasarnya merupakan akad yang bersifat sosial, dan bukan bersifat komersil. Akad Wadi`ah ini berdiri berdasarkan kasih sayang dan tolong menolong, sehingga tidak mengharuskan adanya imbalan dalam menjaga titipan tersebut.
  1. Setelah kita memahami point pertama, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa deposit dana (uang yang mengendap) di rekening GO-PAY bisa bermakna dua, Hutang/Qardh (sama halnya dengan tabungan di bank) atau sewa dibayar dimuka (ijarah, sama halnya dengan pulsa prabayar).

KENAPA NABUNG DI BANK DIHUKUMI QARDH?

Karena pada saat menabung uang di bank, bank bebas memakai uang nasabahnya dan harus/wajib untuk dapat mengembalikan uang nasabah kapan saja nasabah membutuhkannya.

  1. Marilah kita bersama-sama meneliti dan memeriksa term of conditions dari www.go-pay.co.id/terms. [Dilihat pada hari Jumat, 10 Februari 2017, backup penampilan hasil file html tersimpan di website kami. klik disini]
  1. Pada bagian akhir dijelaskan bahwa ketika dalam masa kontrak (install aplikasi), dana bisa ditarik selama lebih dari limit (Rp 2.000.000,-), artinya ada dana mengendap sebesar Rp 2.000.000,-, yang tidak bisa ditarik oleh konsumen (namun bisa dipakai).[lihat klausul: Pembukaan Rekening dan Isi Ulang Saldo Rekening Aplikasi GO-PAY (Poin D)]
  1. Ketika kontrak diakhiri (penutupan aplikasi), dan rekening ditutup, uang yang tersisa (setelah dikurangi biaya) dikembalikan. Dan ketika saldo uang kurang dari biaya, maka pengguna (pemilik uang) wajib membayar kekurangannya.
  1. Ilustrasinya adalah bahwa kalau saldo kita Rp 2.500.000,-, maka maksimal yang dapat diambil Rp 500.000,- dan jika saldo uang kita hanya Rp 1.000.000,- maka tidak dapat ditarik uangnya, kecuali rekeningnya ditutup, namun tetap dapat dipakai untuk bertransaksi. Ketika aplikasinya ditutup, saldo uang kita masih Rp 500.000,-, setelah dikurangi biaya (misalnya: Rp 100.000,-), maka sisa uang Rp 400.000,- akan dikembalikan kepada kita.
  1. Kesimpulan dari Sekolah Muamalah Indonesia adalah bahwa dana deposit top-up GO-PAY sama persis dengan skema tabungan di bank, dengan perbedaan yaitu tanpa bunga dan kebijakan saldo minimal (penarikan dana) setelah diambil sebesar Rp 2.000.000,- (lebih besar dari bank yang biasanya hanya mengenakan Rp 50.000 untuk para nasabahnya).
  1. Karena dana deposit top-up GO-PAY sama halnya dengan tabungan di bank, maka akadnya adalah Hutang-Piutang (Qordh). Jika akadnya Hutang-piutang (Qordh) maka tidak boleh pihak yang memberikan hutang mendapat tambahan manfaat dari yang berhutang selama hutang-piutang (Qordh) masih berjalan, itulah sebabnya kenapa bonus yang diberikan oleh gopay merupakan tambahan manfaat yang diterima konsumen/nasabah GO-PAY saat mendepositkan uang/dana ke gopay hukumnya menjadi Riba.
  1. Lalu bagaimana dengan adanya pendapat jika uang yang di topup ke GO-PAY adalah titipan dan bukan Hutang?

Perlu dipahami bahwa Akad memberikan Uang didepan kepada pihak lain, dan ada jaminan (dhaman) pihak lain tersebut akan mengembalikan uang tersebut dan pihak lain boleh menggunakan uang tersebut untuk apapun, dan akan mengganti jika hilang maka akad penyerahan uang saat topup ini disebut Hutang (Qordh).

Jika akadnya adalah Titipan (Wadiah), maka uang yang dititipkan tersebut tidak boleh dipakai oleh pihak yang dititipkan dan harus dipisahkan rekening setiap orang supaya uang yang dititipkan tersebut tidak bercampur, dan jika barang yang dititipan tersebut hilang maka pihak yang dititipkan barang tersebut tidak menanggung atau menggantinya.

Oleh karena nasabah GO-PAY memberikan uang yang nantinya akan diambil kembali untuk digunakan membayar jasa berikutnya, maka saat nasabah melakukan top-up atau mendaftar GO-PAY hakikatnya adalah nasabah telah menghutangi GO-PAY dan bukan menitipkan uangnya.

KESIMPULAN

Alhamdulillah.. Setelah membaca penjelasan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa :

  1. Akad sejatinya dari layanan GO-PAY adalah Qordh (hutang) yang di berikan nasabah kepada pihak GO-PAY, bukan Ijarah (sewa) seperti Pulsa, atau Wadi’ah (titipan).
  2. Ketika akad top-up atau deposit GO-PAY ini adalah Qordh, maka pihak nasabah sebagai pemberi hutang terlarang menerima tambahan manfaat berupa bonus ataupun yang semisalnya dari GO-PAY sebagai pihak yang berhutang karena itu adalah Riba.
  3. Hukum memakai GO-PAY pada asalnya adalah Halal, asalkan tidak memakai atau mendapatkan potongan harga maupun tambahan manfaat lainnya, karena hal itulah yang menjadikannya Riba.

Bagi yang memiliki pendapat ‘kok semua menjadi Riba’, mempersulit diri, terlalu ektrim dan lain-lainnya, kami sungguh mohon maaf, kami hanya menyampaikan Amar ma’ruf nahi Munkar, mewujudkan rasa kasih sayang sesama muslim dengan saling mengingatkan.

Pilihan ada pada Anda, tugas sesama muslim adalah saling mengingatkan.

Semoga Allah SWT selalu memberikan Taufiq dan Hidayah kepada kita semua dan menjaganya.

Mohon maaf kami sengaja tidak menjawab satu-persatu pertanyaan, bantahan, cacian, bahkan fitnah yang ada di media sosial karena untuk menghindari debat kusir, InsyaAllah semua ada dalil dan solusi syar’inya.

Terimakasih atas saran, masukan dan dukungannya.

Barakallahu fiikum.

Read more: http://sekolahmuamalah.com/lanjutan-hakikat-riba-pada-ojek-online/#ixzz4YQLk1kW1


Ahmad Ifham Sholihin

TANGGAPAN dari saya [Ahmad Ifham Sholihin], sederhana saja:

  1. Mari pahami fikih muamalah [transaksi bisnis dan nonbisnis] sebelum memberikan kesimpulan.
  2. Go Pay itu sudah sesuai logika [syariah] dan tidak mengandung Riba, jika uang Deposit dianggap sebagai uang panjar [uang muka] atas TRANSAKSI JUAL BELI JASA/MANFAAT Go Jek [dengan segala fasilitasnya]. | Oleh karena itu, pihak Go Jek [Go Pay] mau menempatkan uang itu ke rekening atas nama Go Jek [Go Pay], dari sisi TRANSAKSI, ya nggak masalah, jika ditempatkan di REKENING BANK SYARIAH.

Ayo ke Bank Syariah. #iLoveiB

Demikian. waLlaahu a’lam bishshawaab

(Visited 285 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *